Tidak Jadi Bahagia

Aku mengucek mata. Suara hujan masih terdengar di luar. “Jam berapa ini?”

Pandanganku tertuju pada jam dinding. Tepat jam 12 malam. Aku sudah tertidur sejak tadi, tapi sesuatu membangunkanku.

Wangi khas bakpao ayam yang baru matang menggelitik penciuman, membuatku terjaga di tengah malam. Namun aku ragu untuk beranjak dari tempat tidur. Rasanya mustahil ada orang yang memasak bakpao tengah malam begini. Apalagi sekarang cuaca dingin karena hujan belum berhenti menyapa bumi. Namun rasa lapar mulai mengalahkan rasa kantuk di mata. Tak urung kucoba turun perlahan dari tempat tidur dan mendapati Ibu di dapur. “Loh, kok bangun ?” Sapanya terkejut melihatku. “Laper…gabisa tidur, trus eh wangi bakpao. Ibu ngapain masak bakpao malam-malam begini..?” Tanyaku penasaran sambil hendak mencomot satu bakpao yang menggoda dari piring. “Eh enak aja” Ibu berkata sambil menepiskan tanganku “Itu tuh buat besok! Kan besok papa ulang tahun dan seperti yang kamu tau, makanan kesukaannya kan memang bakpao ayam.” Matanya mencerminkan kesedihan yang lalu diusirnya dengan berkedip-kedip hendak menahan air mata yang akan tumpah. “Oh..iya..” jawabku kembali ke kamar.

Papa sudah meninggal 3 tahun lalu namun Ibu masih belum bisa move on dari kejadian itu. Kejadian yang membuat papa kehilangan nyawanya.

Pada waktu itu, 3 tahun lalu, papa dan mama pergi untuk makan malam bersama seperti yang sudah direncanakan berminggu-minggu sebelumnya. Keduanya terlihat sangat bahagia akan makan malam bersama setelah sekian lama dengan pakaian yang serasi itu. Papa ingin makan malam ini tidak diganggu siapapun, sehingga supirpun tak dipakainya. “Papa sendiri yang ingin menyetir mobil.” Ucapnya dengan senyum. Senyuman yang tak hanya terlihat di bibir namun juga di mata, Senyum kebahagiaan yang tak pernah kulihat setelah sekian lama. Saat itu adalah hari yang sangat dinanti keduanya. Pulangnya, keadaan sangat berbeda. Mata yang berbunga-bunga dan bahagia, hilang darinya, dan terlihat kepedihan yang dirasanya. Darah dimana-mana, Ibu banjir air mata. Terbaring di tempat tidur rumah sakit lemah tak berdaya. Akupun lupa bagaimana aku bisa sampai disana saking paniknya. Malam itu, adalah malam dimana papa mengehmbuskan nafas terakhirnya, 3 tahun lalu.
Kenangan pedih memang.

aku terbangun pukul 6.00 pagi. Tak biasanya aku bangun pagi apalagi hari ini adalah hari Sabtu. Tapi entah mengapa badanku sangat ingin bangun dari kasurku ini. Kubuka pintu kamar, Ibu sedang duduk di sofa sambil meneteskan air mata. “Ibu kenapa ?” Tanyaku sambil beranjak duduk disampingnya walaupun jawabannya sudah bisa kuperkirakan. Papa pastilah jawabannya. “Oh..nggak apa, cuman sedih aja keinget papa.” “Sudahlah bu, lupakan saja karena kita kan juga punya hidup yang harus dijalanin dan Ibu nggak akan bisa kayak gini terus.” Ujarku lelah. Mengapa sih..Ibu susah sekali move on. Bukan berarti ku tak sayang. Hanya saja, sudah waktunya kita untuk melupakan dan merelakan kepergiannya. Tak baik lama-lama bersedih seperti ini. Sama saja seperti menyiksa diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s